Bekasi – Dalam upaya memperkuat transformasi pembelajaran yang humanis, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur'an, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Muhajirien Jakapermai menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Guru dan Bedah Buku "Kurikulum Berbasis Cinta: Prinsip, Karakteristik, dan Aplikasinya dalam Pembelajaran pada Madrasah Jenjang MI, MTs, dan MA". Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan MI Al-Muhajirien Jakapermai sebagai bagian dari penguatan kompetensi profesional pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Kegiatan menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.A., M.Pd.I, Ketua Program Studi Magister Tasawuf dan Psikoterapi Universitas PTIQ Jakarta sekaligus penulis buku Kurikulum Berbasis Cinta: Prinsip, Karakteristik, dan Aplikasinya dalam Pembelajaran pada Madrasah Jenjang MI, MTs, dan MA, sebagai narasumber utama.
Turut hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi, Agung Istiqlal, S.Pd., serta Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Kota Bekasi, Drs. H. Sabar, S.Pd. Kehadiran para pemangku kepentingan pendidikan madrasah tersebut menjadi wujud sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam di Kota Bekasi.
Dalam pemaparannya, Ahmad Zain Sarnoto menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan paradigma pendidikan yang menempatkan nilai kasih sayang (mahabbah), penghormatan terhadap martabat manusia, dan pengembangan fitrah peserta didik sebagai inti dari proses pembelajaran.
Menurutnya, guru tidak hanya memiliki tugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing, mendampingi, dan menginspirasi peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, sehat secara psikologis, serta memiliki kepedulian sosial.
"Cinta adalah energi pendidikan yang paling kuat. Ketika guru mengajar dengan kasih sayang, menghargai potensi setiap anak, dan menghadirkan keteladanan, maka proses belajar akan menjadi pengalaman yang membentuk karakter, bukan sekadar mengejar nilai akademik. Pendidikan yang dilandasi cinta akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki kesehatan mental yang baik," ujar Ahmad Zain Sarnoto.
Beliau juga menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sejalan dengan misi pendidikan madrasah yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu menghadirkan suasana belajar yang aman, menyenangkan, inklusif, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang sesuai potensi yang Allah SWT anugerahkan.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi, Agung Istiqlal, S.Pd., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pembinaan tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas guru merupakan investasi strategis dalam mewujudkan pendidikan madrasah yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Madrasah harus menjadi rumah yang nyaman bagi peserta didik untuk belajar dan bertumbuh. Karena itu, guru perlu terus mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta memberikan perspektif baru bahwa pembelajaran yang berkualitas dimulai dari hubungan yang penuh penghargaan dan kasih sayang antara guru dan peserta didik," ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Pokjawas Madrasah Kota Bekasi, Drs. H. Sabar, S.Pd. Ia menilai bahwa supervisi pendidikan di madrasah tidak hanya diarahkan pada pemenuhan administrasi pembelajaran, tetapi juga pada penguatan budaya akademik yang humanis dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Menurutnya, guru masa kini dituntut menjadi pendidik yang mampu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik sekaligus menjadi teladan dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, konsep Kurikulum Berbasis Cinta sangat relevan dengan arah pengembangan pendidikan madrasah di Indonesia.
Kegiatan bedah buku berlangsung secara dialogis. Para peserta aktif mendiskusikan prinsip-prinsip dasar Kurikulum Berbasis Cinta, strategi implementasi di dalam kelas, integrasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam pembelajaran, hingga pendekatan psikologi Islam dalam membangun kesehatan mental peserta didik. Berbagai studi kasus dan praktik baik yang dipaparkan narasumber memberikan inspirasi bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para guru menyampaikan berbagai pengalaman nyata dalam mendampingi peserta didik dengan karakter yang beragam, sekaligus berdialog mengenai strategi membangun komunikasi yang efektif, empatik, dan berorientasi pada penguatan karakter.
Melalui kegiatan ini, MI Al-Muhajirien Jakapermai menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya pendidik sebagai garda terdepan dalam mencetak generasi Qur'ani yang unggul, berkarakter, berprestasi, dan memiliki kecerdasan spiritual serta emosional.
Pembinaan guru dan bedah buku ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara nyata di lingkungan madrasah. Dengan menjadikan cinta sebagai ruh pendidikan, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang berakhlak mulia, berempati, tangguh menghadapi tantangan kehidupan, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama