By Assoc. Prof. Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.A.,M.PdI. at Kamis, 09 Juli 2026

Melawan Enam Jenis Kanker, Praktisi Dakwah Tri Handayani Berhasil Raih Gelar Doktor IAT Universitas PTIQ Jakarta

Jakarta – Di balik toga doktor yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Tri Handayani, seorang praktisi dakwah, berhasil menyelesaikan pendidikan Program Doktor (S3) Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta di tengah perjuangannya melawan enam jenis kanker yang dideritanya.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak mampu mengalahkan semangat, keteguhan hati, dan keyakinan kepada Allah SWT. Dengan penuh kesabaran, ia menjalani proses pengobatan sekaligus menyelesaikan penelitian ilmiah hingga akhirnya berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor yang diselenggarakan pada Kamis (9/7/2026).

Selama menempuh studi doktoral, Tri Handayani berada di bawah bimbingan dua akademisi terkemuka, yaitu Prof. Dr. Darwis Hude, M.Si. dan Assoc. Prof. Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.A., M.Pd.I. Keduanya secara intensif memberikan arahan, pendampingan akademik, dan masukan ilmiah sehingga disertasi yang disusun mampu memenuhi standar akademik Program Doktor Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

Sidang promosi doktor dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Darwis Hude, M.Si. selaku Ketua Sidang. Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, Prof. Dr. Nur Arfiyah Febriani, M.A., Assoc. Prof. Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.A., M.Pd.I. , Assoc. Prof. Dr. Muhammad Hariyadi, M.A., serta Assoc. Prof. Dr. Akhmad Shunhaji yang bertindak sebagai Sekretaris Sidang sekaligus anggota dewan penguji.

Di hadapan para penguji, Tri Handayani mampu memaparkan hasil penelitiannya secara sistematis, kritis, dan argumentatif. Berbagai pertanyaan, kritik, dan pendalaman terhadap substansi disertasi dijawab dengan tenang dan penuh keyakinan, mencerminkan penguasaan yang baik terhadap bidang Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

Perjalanan akademik Tri Handayani bukanlah perjalanan yang mudah. Di sela-sela aktivitas dakwah dan proses penyusunan disertasi, ia harus menjalani serangkaian pemeriksaan, terapi, serta pengobatan akibat enam jenis kanker yang dihadapinya. Kondisi tersebut tentu menjadi ujian yang sangat berat, baik secara fisik maupun psikologis. Namun, dengan semangat yang tidak pernah padam, dukungan keluarga, para pembimbing, sahabat, dan doa dari banyak pihak, ia mampu melewati setiap tahapan hingga berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Bagi Tri Handayani, menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Ia meyakini bahwa setiap ujian yang diberikan Allah selalu disertai hikmah dan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bersabar. Prinsip inilah yang menjadi sumber kekuatan untuk tetap produktif dalam berdakwah, meneliti, dan menyelesaikan studi meskipun berada dalam kondisi kesehatan yang sangat berat.

Keberhasilan Tri Handayani mendapat apresiasi dari sivitas akademika Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta. Capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kualitas akademik seorang doktor lulusan PTIQ, tetapi juga menghadirkan teladan tentang makna kesabaran (ṣabr), keteguhan (istiqāmah), dan tawakal dalam menghadapi ujian kehidupan.

Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa kesuksesan tidak selalu diraih dalam kondisi yang mudah. Justru di tengah keterbatasan dan ujian yang berat, manusia dapat menunjukkan potensi terbaiknya ketika memiliki keyakinan, tekad yang kuat, serta semangat untuk terus belajar. Tri Handayani telah membuktikan bahwa penyakit tidak mampu membatasi cita-cita, dan cobaan tidak mampu menghentikan langkah seseorang yang berpegang teguh pada ilmu, iman, dan harapan.

Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta berharap keberhasilan Tri Handayani menjadi inspirasi bagi para mahasiswa, akademisi, praktisi dakwah, dan masyarakat luas untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Semangatnya menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan, kesabaran, dan keimanan merupakan kekuatan yang mampu mengantarkan seseorang melewati berbagai ujian kehidupan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat.

"Kesuksesan bukanlah tentang seberapa mudah jalan yang ditempuh, tetapi tentang seberapa kuat seseorang bertahan dalam setiap ujian. Kisah Dr. Tri Handayani adalah bukti nyata bahwa dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi untuk diraih."