By Andi Jumardi at 25 Mar 2018

Peserta Studi di Jerman Dan Australia

Oki Setiana Dewi (28), baru saja menyelesaikan pendidikan singkatnya di Jerman dalam program “Life Muslim of Germany, study trip 2017”, Oki, demikian panggilan akrabnya, terpilih bersama 13 orang lainya yang mendapat kesempatan beasiswa dari pemerintah Jerman dan menyisihkan hampir 1000 orang pelamar.

Selama 2 pekan di Jerman, dari tanggal 7 – 21 Oktober 2017, Oki mengunjungi beberapa Universitas diantaranya; Universitas Humboldt (Berlin), Universitas Gottingen (Gottingen) dan univeritas Goethe (Frankfurt), dengan mengikuti perkuliahan Prof. Fritsz Schulze, Prof. Irene Schneider, Prof. Bekim Agai, Prof. Manja Stephan Emmrich dan lain-lain dengan tema-tema perkuliahan diantaranya, a general introduction to the topic, Islamic studies in Germany, Muslim communities & community life, muslim life in Germany within larger societal & political context.

Selain mengikuti perkuliahan di kampus, Oki juga berkesempatan mengunjungi berbagai musium dan perpustakaan. Ia menemukan ribuan manuskrip Indonesia yang tersimpan dengan rapi diperpustakaan dan musium. Serta artefak peninggalan seni Islam yang luar biasa. Hal ini menunjukkan betapa Jerman sangat menghargai peninggalan masa lalu dan sejarah, ujar mahasiswi program Doktor Ilmu Al Quran dan Tafsir konsentrasi pendidikan Berbasis Al Quran Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta angkatan 2015 tersebut.

Walaupun Jerman negara sekuler namun perhatiannya pada pengembangan Islam perlu di ajungi jempol. Jerman memiliki Berlin-Brandenburgische Akademimie yang memiliki proyek salah satunya adalah Corpus Coranicum, yakni sebuah proyek penelitian para orientalis dalam mengkaji al Qur’an dengan menggunakan metode kritik historis. Pendidikan agama Islam pun di ajarkan pada sekolah publik. Pemerintah Jerman juga bekerjasama dengan rumah ibadah khsusunya masjid untuk menangkal radikalisme di tengah masyarakat Jerman, terang Ustadzah yang sering mengisi kajian di televisi tersebut.

Selain berkunjung ke Jerman, sebelumnya pada bulan maret 2017, Oki mendapat beasiswa dari Australia Indonesia Institut untuk Muslim Exchange Programme. Selama 2 pekan di Australia mengunjungi berbagai universitas, sekolah, organisasi, komunitas dan melakukan dialog lintas agama di Melbourne, Sydney dan Canberra.

“Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat di negara multikultural seperti Jerman dan Australia semoga menjadikan bekal pribadi yang kokoh dalam memegang prinsip, namun memiliki pikiran yang terbuka lebar”, ujar ustadzah Oki.