By Andi Jumardi at 31 Dec 2019

Menjaga Kampus PTIQ dari Paham Terorisme

Warta PTIQ- Kamis, 19 Desember 2019, Institut PTIQ Jakarta menggelar acara “Dialog Pelibatan Civitas Academica dalam Pencegahan Terorisme”.

Acara yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta ini bertempat di Aula Masjid Darul Qur’an PTIQ. Hadir sebagai peserta ialah para dosen, pengurus organisasi kemahasiswaan, dan mahasiswa Institut PTIQ Jakarta.

Dalam sambutannya, Rektor Institut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., menekankan tentang pentingnya mahasiswa memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur’an. “Semakin dalam pengetahuan seseorang tentang Al-Qur’an maka ia akan semakin bersikap moderat. Sebaliknya, semakin dangkal pengetahuannya tentang Al-Qur’an maka ia semakin mudah terjerumus pada terorisme,” jelasnya.

Acara yang diikuti oleh 200 orang lebih ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama diisi oleh Brigjen Pol. Ir. Hamlli, M.E. dan Kurnia Widodo. Dalam paparannya, Ir. Hamli menjelaskan akar munculnya terorisme. Menurutnya, paham ini tidak muncul begitu saja. Sikap seseorang yang bisa terjerumus pada paham terorisme ialah karena ia tidak toleran sehingga melahirkan radikalisme dan berujung pada paham terorisme. Namun, ia menegaskan bahwa terorisme bukanlah lahir dari agama tertentu karena setiap agama memiliki potensi melahirkan terorisme. Hanya saja, ada beberapa orang dari pemeluk agama tertentu yang menjadikan agama sebagai alat untuk tindakan terornya.

Sementara itu, Kunia Widodo, salah seorang mantan Teroris yang kemudian bertaubat bercerita tentang pengalaman hidupnya yang awalnya memiliki paham takfiri dan menganggap Indonesia dan para pemimpinnya sebagai thoghut sampai ia menemukan jalan untuk kembali ke jalan yang benar.

Sesi ke dua diisi oleh Prof. Dr. Darwis Hude, M.Si., Dr. Abdul Muid, M.A., dan Dr. Suai Tahir, M.A. Sesi ini diawali oleh Prof. Darwis yang memaparkan pentingnya Al-Qur’an dijadikan sebagai kitab petunjuk. Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an harus dipahami secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong. Pemahaman yang parsial terhadap ayat Al-Qur’an akan menyeret pembacanya pada pemahaman yang salah. Ia mencontohkan QS. Al-Baqarah ayat 191. Jika yang dibaca hanya ayat ini tanpa ayat sebelumnya maka seseorang membunuh secara membabibuta. Namun, jika ayat sebelumnya juga dibaca dan dipahami maka pemahamannya akan lebih baik. Ayat 191 bisa dipahami untuk memerintahkan membunuh musuh di manapun ditemui jika berada pada situasi perang bukan pada kondisi damai.

Dr. Muid mengeksplor bagaimana generasi Z menghadapi paham terorisme. Menurutnya, generasi ini memiliki perbedaan karakteristik dengan paham terorisme, misalnya, generasi Z tidak menyukai kemapanan dan berorientasi pada masa depan sedangkan paham terorisme lebih menyukai kemapanan dan berorientasi pada kejayaan masa lalu. Ini lah yang membuat Dr. Muid optimis bahwa generasi ini akan jauh dari pengaruh paham terorisme.

Sementara itu, Dr. Suaib menekankan pentingnya bijak dalam bermedia sosial. Ia menganjurkan agar setiap orang menebarkan paham-paham kedamaian di media sosial dan menghindari dari hatespeech dan kebencian