By Andi Jumardi at 18 Aug 2019

Pentingnya Hoax

Oleh: Dr. Zakaria Husin Lubis, MA.Hum. (Dosen Tetap Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta)

Siapa yang tidak kenal dengan istilah yang sering keluar dari media yaitu “hoax”. Kata hoax sering juga digunakan para pesulap ketika mengatakan suatu hal yang ingin disulapnya. Adalah 'hocus' dari mantra 'hocus pocus' yang artinya sim salabim saat si pesulap ingin menunjukkan kecakapannya di depan para penonton. Seiring dengan perjalanan waktu jargon hocus mengalami metamorfosa di lidah setiap orang sehingga bunyinya pun berubah menjadi hoax yang dalam bahasa ingris berarti berita palsu. Sama halnya dengan si pesulap dengan frasa tersebutdapat memanipulasi atau merubah benda yang dipertunjukkan menjadi benda lain sehingga membuat penonton takjub, kagum dan heran.

Hoax atau berita bohong yang sering menjadi momok mematikan atau bisa juga menghancurkan di masyarakat ini kadangkala menjadi alat dalam menolong manusia dalam kebodohan. Tentu saja hoax ini pahlawan karena keberadaanya justru dapat menambah wawasan seorang pegiat pengetahuan atau akademik. Dampak negatif hoax ini tidak baik bagi masyarakat yang kurang peduli terhadap pengetahuan dan informasi, namun yang perlu diperhatikan adalah manfaat besar bagi segelintir kalangan. Dibalik kekacauan yang ditimbulkan hoax selalu ada perubahan, terlepas itu baik atau buruk yang penting adalah adanya perubahan -Tentunya perubahan itu berkaitan dengan peradaban dan budaya manusia- peradaban dan budaya tidak dapat dipungkiri berkembang dengan semakin banyak informasi yang di dapat manusia selama keberlangsungan hidupnya.

Untuk suatu perubahan kadangkala harus menimbulkan pro dan kontra di tatanan realitas dan media tanpa hal tersebut perubahan tidak akan terjadi. Arus perubahan yang terjadi sekarang ini sangat cepat melalui informasi-informasi yang dikemas dalam berbagai cyber yang di sebarkan melalui Worl Wide Web (WWW). Informasi seperti ini tentu saja tidak bisa dibendung arusnya yang masuk ke dalam masyarakat di berbagai dunia, bahkan informasi via cyber ini semakin terus berkembang sampai yang tidak mungkin menjadi mungkin. Munculnya dunia virtual reality misalnya yang menjadi tren sejak manusia berkeinginan bagaimana informasi dalam dunia maya ini dapat di akses langsung dalam lingkungan asalnya.

Hoax ini bukan suatu hal yang baru. Kemunculannya kalau dilihat dari barometer media cetak maka dapat diduga ada pada saat revolusi industri pada abad ke-14san saat media cetak di temukan oleh Johannes Gutenberg (1398-1468). Selanjutnya dengan hadirnya media kabar di Amerika Serikat tidak lama setelah ditemukann media cetak, hoax ini pun mulai disebarkan oleh para stake holder. Masa-masa inilah serangan hoax sering digencarkan yang tujuannya untuk saling menjatuhkan elit politik, karena berbagai media massa masa ini dikuasai oleh para politikus sebagai alat menjatuhkan lawan politik atau partai oposisi.

Di indonesia hoax terbentuk sudah lebih terorganisir dengan mengatasnamakan cyber army yang pergerakan sangat masif dalam menginformasikan pesan-pesan melalui media sosial. Saking masifnya permasalah ini mengundang para pakar komunikasi untuk membahasnya di Indonesia Lawyer Club pimpinan Karni Ilyas. Anehnya banyak masyarakat percaya saja terhadap informasi-informasi yang disebarkan kelompok ini tanpa mengkroscek keabsahannya. Kepercayaan mereka terhadap berita-berita yang diterimanya kemudian diteruskannya kepada komunitas-komunitas yang ada di grup media sosial. Melihat minat baca orang indonesia yang sangat kurang sekali terhadap literatur-literatur yang otoritatif membuat hoax menjadikan suatu monster yang sangat menakutkan. Ini dapat dilihat bagaimana pemerintah akhirnya membuat undang-undang yang berkaitan dengan penggunakan media sosial agar tidak sembarang menyebar berita hoax. Padahal kabar hoax seharusnya tidakusah diperkecil ruang geraknya, biarkan berita ini meyebar. Permasalannya balik lagi kepada semua para penerima informasi mau atau tidaknya mengkroscek kebenarannya. Justru dengan adanya pesan hoax ini menambah minat sebagian masyakat terus mengkaji berita-berita yang masuk secara mendalam.

Hoax tidak selamanya negatif sebab ada hoax juga yang bermuatan positif. Misalnya saja dalam istilah kedokteran ada yang disebut placebo yang dampaknya dapat memyembuhkan pasien. Placebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan. Dengan pesan hoax yang dikarang dokter terhadap pasiennya dengan harapan munculnya semangat kembali dari pasien untuk sembuh dari penyakitnya dengan cara meyakinkannya. Dalam dunia marketing juga kebanyakan perusahaan menggunakan berita hoax ini agar menarik minat para pelanggan pada umumnya. Tentunya pesan iklan tersebut tidak sepenuhnya palsu tapi bagaimana caranya dibuat semenarik mungkin agar membuat orang percaya terhadap produk yang dipasarkan. Dalam ranah agama pun hoax tidak sepenuhnya dapat disalahkan oleh karena itu dalam Quran yang berkaitan dengan hal ini dalam redaksinya disebutkan tabayyun. In Jaakum Fasiqu bi Nabai Fatabayyanu…(al-Hujarat-49:6).

Dapat dipahami dari redaksi ayat tersebut bahwa hoax memang sengaja diadakan dengan perintah kepada para pembacanya agar melek terhadap sumber yang asli agar manusia semakin menambah pengetahuannya. Kelanjutan dari ayatnya, yaitu dilarang keras untuk menyebarkan sebelum kita benar-benar tahu akan keabsahannya dengan tujuan agar tidak terjadi kekacauan yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Penulis berpendapat bahwa terjadi keberlangsungan hidup manusia di bumi ini disebabkan adanya pesan hoax yang bermuatan positif dari ilahi yang tujannya untuk menguatkan eksistensi manusia sebagai khalifah yang sejati, yang dapat mengemban amanah dari tuhan. Hoax positif dari ilahi itu ialah, ketika Adam diberikan berita oleh tuhan agar menjauhi pohon khuldi tetapi dengan pengetahuan yang telah diajarkan tuhan terhadapnya ….wa ‘Allama A>dam al-Asma>a Kullaha…(al-Baqarah 2:31) curiosity Adam pun mulai terbentuk disebabkan ilmu yang sebelumnya sudah diajarkan kepadanya. Mengapa pohon khuldi sebuah berita bohong atau hoax? Jawabannya adalah adanya keberlangsungan manusia di bumi ini.

Tuhan tidak menginginkan Adam dan istrinya mendekati pohon khuldi sementara keberlangsungan manusia sampai sekarang tetap berjalan, bahkan manusia diberi tugas sebagai khalifah yang memakmurkan bumi. Dengan artian tuhan sudah mendesain kejadian ini dengan iradah-Nya melalui berita kosmis yang melarang Adam beserta istrinya mendekati pohon tersebut agar terjadi keberlangsungan dari konsep khalifah. Kekontradiksian inilah bagian dari hoax yang kadangkala ada manfaatnya. Wallahu a’lam